OPENABA 2006
Setelah berjibaku dengan padatnya kegiatan di MOS 2006, siwa baru langsung menghadapi OPENABA (Orientasi Penerimaan Anggota Baru Pramuka), dilihat dari namanya acara tersebut memang diadakan oleh Pramuka .
Acara yang dihelat selama 3 hari di Coban Talun mulai tanggal 15-17 merupakan kalender resmi MAN 3 Malang dalam tahun 2006-2007, menyinggung soal mengapa pramuka ikut mengadakan acara orientasi maka jawabnya adalah Pramuka adalah satu-satunya kegiatan ekstrakurikurer yang diwajibkan, sehingga seluruh siswa kelas X adalah anggota baru Ambalan.
Dari sekitar 300an siswa baru, hanya sekitar 75 % siswa yang ikut OPENABA, banyak alasan yang dikemukakan oleh siswa baru tersebut misalnya sakit, kecapekan sehabis MOS (perlu diketahui dihari terakhir, MOS dilakukan sehari semalam atau menginap di Kampus MAN 3), dan kekhawatiran wali murid terhadap kegiatan tersebut sehingga tidak mengijinkan anaknya ikut. Namun siswa baru yang tidak bisa mengikuti OPENABA tidak bisa bersantai ria, pasalnya Dewan Ambalan memberikan tugas khusus berupa pembuatan makalah minimal 10 halaman serta kliping kegiatan pramuka sebanyak 20 halaman.
Sebelum diberangkatkan setiap peserta dikelompokkan menjadi beberapa sangga. Peserta diberangkatkan sekitar pukul 9.30, pemberangkatan ke bumi perkemahan menggunakan truk militer (Bekang) sejumlah 6 buah, banyaknya siswa yang tidak ikut membuat bekang terasa longgar.
Dihari pertama belum ada kegiatan yang spesial, hari itu cuma diisi dengan game-game ringan serta pemberian materi seputar Pramuka penegak dan sejarah pramuka di Dunia maupun Indonesia. Pagi harinya peserta dibangunkan pukul 3 pagi untuk menunaikan ibadah salat Tahajud, yang kemudian dilanjutkan dengan Salat Subuh.
Sekitar pukul 6.00 diadakan senam pagi namun karena jadwal molor dari ketentuan semula sehingga siswa langsung disiapkan untuk acara penjelajahan atau keliling rimba Coban Rondo. Setelah peserta dibariskan, peserta dengan dipandu Sangga Kerja melakukan pemanasan untuk melemaskan otot, maklum medan Coban Rondo yang berat berupa naik turun dibutuhkan otot yang lemas serta stamina yang prima. Inilah menurut kak Angga sang Ketapel (Ketua Pelaksana) mengapa dihari pertama belum ada kegiatan yang melelahkan.
Pengurutan sangga mana yang berangkat dahulu ditentukan oleh kemampuan anggotanya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Sangga Kerja, Sangga Kerja mengibarkan bendera semaphore untuk ditebak oleh peserta. Sangga mana yang berhasil menebak dengan cepat dan benar akan berangkat duluan, sebelumnya peserta juga diberi tahu bahwa rute tersebut diberi tanda jejak yang berupa tali rafia. Jika ada tali rafia berwarna merah maka jalan tersebut tidak boleh dilalui, namun jika tali rafia berwarna hijau maka jalur tersebut bisa dilalui.
Memang benar rute yang dilalui peserta memang berat. Rute tersebut melewati jalanan yang rimbun, berdebu, curam, menanjak dsb. Diantara rute tersebut disiapkan pos-pos yang menguji kemampuan peserta, dengan rincian sebagai berikut.
Di Pos I siswa diuji dengan game long is the best, menurut salah satu sangker metode permainan ini adalah setiap anggota sangga harus bisa bekerja sama untuk menghubungkan sesuatu di antara dua pohon (panjang pohon kira-kira 50 meter), penghubung tersebut bisa berupa benda atau ranting namun tidak boleh sama. Di Pos ini peserta diuji kemampuan untuk melatih tiada rotan akarpun jadi. Maksudnya peserta harus bisa memanfaatkan barang disekitar untuk menghubungkan pohon itu. Ada Sangga yang kebetulan membawa tali rafia yang sangat panjang, maka tak ayal sekali mengulur rafia dua pohon tersebut bisa dihubungkan.
Untuk meminimalisir peserta yang tersesat maka tiap pos diberi pos bayangan yang menunjukkan arah. Di Pos 2 Sangga diuji dengan estafet air, sistem permainan ini adalah peserta diberi botol mineral kosong, peserta dibariskan berbanjar dan jongkok, peserta yang didepan diberi botol mineral yang besar yang didalamnya berisi air, peserta yang depan kemudian mengalirkan air ke peserta yang berada dibelakangnya dengan catatan tidak boleh melihat. Kemudian peserta kedua mengalirkan botol ke peserta berikutnya sampai semua botol terisi. Serunya permainan ini terletak kepada peserta yang melakukan kesalahan sehingga dinginya air sungai bisa membasahi tubuh peserta yang lain.
Pos III merupakan sebuah ujian yang memerlukan pikiran cerdas, pos tersebut bernama step and stone, prinsip pos tersebut diilhami dari korek api, yaitu tiap Sangga yang terdiri dari beberapa orang dibariskan berhadap-hadapan. Harus ada satu orang yang memberikan komando. Peserta yang berhadap-hadapan tersebut harus bisa berjalan satu langkah untuk melawati temannya sampai akhirnya saling berkebalikan.
Setelah berkutat dengan kemampuan berpikir dan fisik di POS sebelumnya, maka di Pos IV peserta cuma menghadapi tantangan yang membutuhkan kecerdasan ekstra, halangan tersebut berupa membuat membuat simpul dengan tangan tidak boleh terlepas, selain itu sebagian anggota sangga yang lain harus diberi soal yang berupa memecahkan isi sandi-sandi khas pramuka.
Inilah pos yang paling berat. Di pos V peserta harus melewati rintangan yang berat berupa masuk jaring laba-laba dan merayap dibawah halangan mirip tentara cuma bedanya kalau tentara menggunakan kawat berduri maka di OPENABA cukup menggunakan tali rafia, tiap kesalahan akan dihitung yang kemudian ditebus dengan coretan lumpur di wajah peserta. Lucu juga melihat peserta yang cantik dan genteng harus dicoreti wajahnya.
POS VI sangga harus bisa melakukan PBB, meski di MOS lalu peserta sudah diberi pelajaran PBB oleh anggota TNI, namun tidak sedikit peserta yang salah dalam melakukan PBB. Sehingga harus membuat team sangker bekerja ekstra untuk membetulkannya.
POS VII merupakan pos terakhir dalam rangkaian penjelajahan, kali ini sangga ditugasi membuat gambar yang ada di benak mereka, tiap anggota sangga/peserta harus membuat satu gambar, waktu yang dibutuhkan dalam membuat gambar adalah 20 detik sehingga jika dalam satu sangga ada 10 anggota maka harus ada 10 gambar. Yang membuat pos ini seru adalah setelah gambar selesai Pimpinan sangga harus menjelaskan apa maksud dari gambar tersebut secara cerita yang berurut dan nyambung, inilah yang banyak Sangga Kerja banyak tertawa terpingkal-pingkal setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh Pimpinan Sangga ada yang nyambung namun tidak sedikit yang berbelit-belit atau bahkan tidak sesuai dengan kenyataan misalnya ada gambar bola, orang dan segitiga Pinsa menceritakan sekelompok orang bermain sepak bola di lapangan berbentuk segitiga. Sehingga bisa dibayangkan betapa ribetnya membuat cerita dari gambar yang dibuat oleh orang berbeda.
Di Pos ini peserta juga diharuskan memakan kacang panjang mentah, beragam ekspresi yang ditunjukkan oleh peserta, ada yang terbiasa karena merupakan lalapan kegemarannya namun ada pula yang hampir muntah, banyak peserta putri yang menangis ketika memakannnya.
Sambil Istirahat setelah melakukan penjelajahan, peserta juga bisa berpartisipasi dalam kegiatan meluncur yang dilakukan diatas pohon yang dihubungkan dengan tali.
Malam harinya diadakan upacara api unggun, dalam sambutannya Kak Gunawan menceritakan tentang awal mula gerakan pramuka di Indonesia dan nasihat tentang manfaat pramuka. Ada kejadian lucu ketika pembacaan dasadarma yang dilakukan oleh 10 orang, di urutan ke 9 peserta kelupaan menyebut Dasadarma sehingga jeda antara dasadarma ke 9 dengan ke 10 cukup lama yang akhirnya perlu diingatkan oleh peserta lain.
Acara api unggun diiringi dengan pentas seni yang dilakukan oleh masing-masing sangga. Tampaknya para peserta menikmati gelaran acara ini tidak tampak raut muka kecapekan di wajah mereka. Bermacam-macam atraksi ditampilkan ada yang main akustik, menyemburkan api, atau menari. Di sela-sela acara Team Alumni sempat melakukan “gojlokan” terhadap salah satu peserta yang Ulang Tahun, peserta disuruh makan nasi didepan anak yang kemudian diiringi lagu selamat ulang tahun versinya Jamrud, namun peserta yang diketahui berasal dari Pujon tersebut tidak sanggup menghabiskan nasi, sehingga team Alumni memanggil salah satu Sangga Kerja yang juga Ulang Tahun untuk menghabiskan nasi.. Acara itu berakhir sekitar pukul 23.00 yang diakhiri oleh penampilan dari team alumni angkatan ’06.
Setelah api unggun berakhir, peserta diberi bimbingan spiritual dan mental. Acara tersebut merupakan salah satu kegiatan inti OPENABA yaitu membentuk jiwa-jiwa yang tangguh dan tahan banting serta iman yang kuat. Banyak peserta yang menangis dalam kegiatan ini.
OPENABA diakhiri dengan kegiatan rekreasi ke Coban Rondo, hal itu bertujuan untuk melepaskan penat setelah 3 hari 2 malam berkutat dengan padatnya jadwal.
Secara keseluruhan acara OPENABA ini berjalan sukses, menurut salah satu Sangga Kerja yang kami wawancarai mengatakan kesuksesan acara ini merupakan buah kerja keras Sangga Kerja selama satu bulan lebih dalam mempersiapkan acara. Disinggung mengenai padatnya kegiatan siswa baru di MAN 3 Malang dia mengatakan bahwasanya itu adalah resiko yang harus ditempuh oleh siswa baru, anggap saja merupakan pemanasan dalam mengahadapi full day school.
Peserta sendiri merasakan kepuasan ekstra ketika menjalani OPENABA, OPENABA yang dibayangkan penuh kekerasan fisik ternyata jarang sekali, yang ada hanya tes psikologis dan mental peserta.
keterangan :
Sangga Kerja : Panitia
Sangga : Sebutan regu dalam Pramuka Penegak
Pinsa : Pimpinan Sangga