Profil – Siang Melatih Basket, Malam Menjaga Sekolah Reviewed by Momizat on . Di sela tugasnya sebagai satpam MAN 3 Kota Malang, M. Arief Rachman menyisihkan waktu sebagai pelatih basket. Saat ini, dia dipercaya melatih enam tim basket. [ Di sela tugasnya sebagai satpam MAN 3 Kota Malang, M. Arief Rachman menyisihkan waktu sebagai pelatih basket. Saat ini, dia dipercaya melatih enam tim basket. [ Rating: 0
You Are Here: Home » INFORMASI MADRASAH » Profil – Siang Melatih Basket, Malam Menjaga Sekolah

Profil – Siang Melatih Basket, Malam Menjaga Sekolah

Di sela tugasnya sebagai satpam MAN 3 Kota Malang, M. Arief Rachman menyisihkan waktu sebagai pelatih basket. Saat ini, dia dipercaya melatih enam tim basket.

2014_09_24_Arif-Rahman

Gaya Arif Rahman Saat Melatih MAN 3 Malang

Keheningan tampak menyelimuti MAN 3 Malang, Senin (8/9) malam. Tapi pintu gerbang sekolah yang ada di Jalan Bandung ini masih tampak terbuka sekitar 60 sentimeter.

Pintu yang dibuka tersebut tepat berjarak 1,5 meter dari pos Satpam. Sesekali tampak sepeda motor masuk ke dalam sekolah dan berhenti sejenak di pos satpam.

Pengendara motor tersebut tampak berbincang-bincang dengan seorang petugas penjaga pos. Dan petugas pos mengantarkan ke arah pintu masuk sekolah.

Ya petugas itu adalah M. Arief Rachman, satpam MAN 3 Malang yang juga sekaligus pelatih enam tim basket Malang. Setiap malam dia menjalankan tugas utamanya sebagai penjaga sekolah.

“Kalau malam ya ini (jaga sekolah) kegiatan saya. Tapi kalau siang, jagain bola sama anak-anak (melatih basket). Kalau jam segini, banyak orang tua yang berkunjung ke ma’had untuk menemui anaknya,” kata Arief kepada Jawa Pos Radar Malang di sela-sela menjalankan tugasnya.

Pria kelahiran 9 Maret 1978 itu menceritakan, dia tidak menyangka jika akan bergulat dengan dunia basket. Karena awalnya hanya iseng beli kaus saat Lebaran sewaktu duduk di bangku SMA.

“Saat itu beli kaus bergambar orang sangar dan keren. Orangnya tinggi dan besar dan ternyata gambar di kaus itu adalah pemain basket ternama NBA Shaquille Oneal. Tapi aku masih belum tahu saat memakai pertama kali, karena cuma keren dan sangar saja pertimbangan belinya,” ucap alumni MAN 3 Malang tersebut.

Nah, secara tidak sengaja, dia nonton salah satu stasiun TV swasta yang menayangkan basket NBA. Nama programnya NBA Action. “Lha saat nonton itu ada pemain basket keren yang ada di kaus yang tak pakai. Ini awal saya jatuh cinta sama basket dan langsung main-main sendiri secara otodidak,” ungkapnya.

Hanya melalui acara NBA Action (SCTV) dan NBA Game (di RCTI), pada hari Minggu dia belajar basket. Hanya saja, saat ini tayangan dua program sudah tidak ada lagi.

“Belajarnya ya cuma lihat program itu, karena mau langsung ikut klub, belum punya uang saat itu,” terang alumni SMP Islam Sultan Agung Bululawang Kabupaten Malang tersebut.

Singkat cerita, pada 1997 silam, dia mendirikan klub basket bernama Fiesta. Klub ini didirikan karena dia tidak cocok dengan klub-klub yang ada di Malang.

“Saya ingin punya klub yang orientasinya pada prestasi dan kebersamaan. Konsep ini yang belum ada saat itu. Jadi, kalau ada kompetisi, saya cari uangnya dari pada donatur,” imbuhnya, lantas tertawa lepas.

Di klubnya itu, Arief juga menjadi pemain. Tapi jangan mengira dia bisa seenaknya untuk memilih jadi skuad utama tim, karena dia dijadikan pemain cadangan di klubnya sendiri.

“Kita harus legawa dan tahu diri dong, karena masa depan klub lebih utama dibandingkan memperebutkan posisi tim inti. Jadi, bertahun-tahun saya jadi pemain cadangan di klub saya sendiri,” kenang suami dari Maulida Islamiyah itu.

Namun, kuliahnya harus dijadikan korban. Tepatnya saat semester tujuh di Jurusan Akuntansi Unisma (Universitas Islam Malang). Hal ini terpaksa dilakukan karena disibukkan dengan mengurusi klubnya dan menjadi pelatih di beberapa sekolah. “Seingat saya, waktu berdirinya klub itu pas jadi maba (mahasiswa baru). Tapi karena klub ini butuh totalitas dalam mengelolanya, maka saya putuskan untuk berhenti kuliah dan ngurusi klub hingga sekarang,” tandasnya.

satpambasketNamun, dari situ, Tuhan memiliki rencana lain. Dia dipercaya beberapa sekolah dan kampus untuk menjadi pelatih basket, yaitu MAN 3 Malang (kompetisi Honda-DBL East Java Series 2014-South Region Malang), MTs N 1 Malang (DBL Junior East Java Series 2014-South Region Malang), SMKN 3 Malang, MIN 1 Malang, tim basket FE Universitas Negeri Malang (UM), tim basket Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang.

“Kalau yang kampus, biasanya saat ada event, seperti Liga Mahasiswa. Tapi terbaru dapat juara I kompetisi antarfakultas di UM, ya anak-anak fakultas ekonomi itu beberapa bulan lalu,” ungkap pria tiga putra tersebut.

Lalu bagaimana dengan profesinya sebagai satpam? Menurut dia, sejak 1999–2005, dia menekuni pekerjaannya menjadi satpam di ruko Pattimura. Hal ini dilakukan juga untuk membantu membiayai kuliahnya di Unisma.

“Jadi, antara satpam dan basket itu kayak jadi teman saya sejak dulu,” imbuhnya.

Karena kontraknya habis dan keluar dari kuliah, maka dia tidak bisa melamar pekerjaan di kantoran. Praktis, pada 2005–2007 dia ikut perusahaan outsourcing juga dengan profesi sebagai satpam. “Tapi klub tetap terus jalan hingga sekarang,” ujar pria 36 tahun itu.

Baru pada 2007 silam, MAN 3 Malang ada lowongan satpam. Dia keluar dari perusahaan dan mencoba keberuntungan melamar sebagai satpam di MAN 3 Malang. “Akhirnya, hingga sekarang jadi satpam dan pelatih basket di sini. Kalau pagi melatih basket dan malamnya menjaga sekolah,” kata Arief.

Mimpi yang masih belum terwujud hingga kini, tim yang dilatihnya bisa menjadi juara di ajang basket terakbar di tingkat pelajar, yaitu DBL (Developmental Basketball League). Karena hal ini dinilai menjadi impian semua pemain basket pelajar di Indonesia. “Itu saja (menjadi yang terbaik di DBL) kalau ditanya harapan tentang anak-anak yang saya latih. Kalau yang mahasiswa, bisa jadi yang terbaik di liga mahasiswa,” imbuh pria yang pernah melatih basket tim SMKN 3 Malang itu. (*/c1/abm)

© 2012 MAN 3 Malang P3TIM, didukung oleh Humas